Bandung, Sebelas12 -
Keseimbangan antara pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan menjadi
kunci yang sangat penting dalam mewujudkan kehidupan masyarakat perkotaan yang
bahagia.
Demikian
disampaikan Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil saat menjadi narasumber pada
Rapat Kerja Pengendalian Pembangunan Daerah DIY Triwulan II/2017 memenuhi
undangan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X di Hotel Inna Garuda, Borobudur
Hall, Jl. Malioboro No. 60 Yogyakarta, Jumat (21/7).
"Saya
meyakini sebuah teori masyarakat maju adalah masyarakat yang bahagia bukan
masyarakat yang kaya raya, itulah kenapa di Kota Bandung kita melakukan project
indeks kebahagiaan, ini adalah inisiatif lokal agar warga yang belum kaya
minimal bahagia," terangnya.
Lebih
lanjut Ridwan mengatakan, bahwa kebahagiaan menurut orang Bandung kebahagiaan
berasal dari dua sumber, satu berkeluarga yang harmonis dan kedua dari rajin
bersilaturahmi antar warga.
Untuk
itu, dirinya menginisiasi program untuk mendorong dua sumber kebahagiaan ini,
dengan mewajibkan kepada seluruh camat lurah untuk melakukan shalat Jumat
bersilaturahmi mendengarkan aspirasi warga di masjid-masjid berbeda setiap
minggu, mendatangi warga-warga miskin membawa bantuan, membuka seluas-luasnya
ruang silaturahmi.
Selain
itu, Ridwan juga menggagas inovasi pelayanan kesehatan, seperti program Layad
Rawat, yang akan mendongkrak indeks kebahagiaan warga Bandung. Program tersebut
mengubah pola pelayanan, di mana dokter yang akan menjenguk warga dan merawat
yang sakit.
Pola-pola
pelayanan jemput bola seperti itu telah diterapkan Ridwan sejak awal
pemerintahannya. Ia berpandangan bahwa dengan metode tersebut, warga bisa lebih
memberi kepercayaan kepada pemerintah kota.
Hasil
survei publik oleh INSTRAT bulan April tahun 2017 menunjukan 80,2% merasa
bahagia menjadi warga Kota Bandung dan 88,8% bahagia menjadi warga Kota
Bandung.
"Hal-hal
diatas adalah contoh bagaimana Kota Bandung mengedepankan pembangunan humanis
yang seimbang, pembangunan ekonomi tanpa mengabaikan sisi sosial serta
lingkungan," katanya di hadapan Bupati/Wali Kota se-Daerah Istimewa
Yogyakarta.
Ridwan
bersama Rektor Universitas Gajah Mada, Panut Mulyono mengisi diskusi interaktif
dengan tema "KnowledgeSharing Pembangunan Infrastruktur Perkotaan yang
Humanis dan Berkelanjutan." Di sana, Ridwan memaparkan reformasi birokrasi
Kota Bandung yang memanfaatkan berbagai teknologi.
Salah
satu teknologi yang dipaparkannya adalah aplikasi pemantau kinerja Aparatur
Sipil Negara (ASN), yakni e-Remunerasi Kinerja. Dengan aplikasi tersebut,
kinerja para ASN bisa terukur dan mendapatkan penghargaan sesuai dengan takaran
kinerjanya.
Lebih
jauh, ia berprinsip bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya harus
dilakukan di satu kota saja, melainkan juga harus dilakukan di seluruh
Indonesia. Oleh karena itu, ia tak segan-segan menghibahkan aplikasi
smartcity-nya kepada pemerintah kota/kabupaten lain di Indonesia.
"Prinsip
saya, kurangi kompetisi, perbanyak kolaborasi, karena kita NKRI," pungkasnya.
(*Red)






