Bandung, Sebelas12 - Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial mengatakan, harus ada
kolaborasi antara Kota Bandung dengan kota/kabupaten lainnya di
Indonesia. Hal ini sebagai langkah stabilisasi pangan sebagai kebutuhan
masyarakat di kota Bandung. Selain itu sebagai pemerintah kota Bandung
kita harus bisa memberikan arahan kepada seluruh masyarakat untuk
mandiri sehingga tidak tergantung kepada pemerintah.
“Kita di Kota Bandung, sebagai kota metropolitan yang wilayahnya
penggarapannya kurang, Kita harus berkolaborasi dengan Kota/Kabupaten
yang Ada di Indonesia. Supaya stabilitas pangan di Kota Bandung terus
terjaga. Selain itu, harus ada arahan kepada masyarakat untuk mandiri
dalam mengelola pangan, seperti contoh jika masyarakat mempunyai halaman
yang luas, disarankan untuk bercocok tanam seperti cabai,
bawang-bawangan jadi ketika perlu tidak usah beli,” Ujarnya saat membuka
acara Sidang Tahunan Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Kota Bandung di Hotel
Golden Flower, Kota Bandung, Kamis (07/12/2017).
Lanjutnya, Oded menjelaskan Program pembangunan ketahanan pangan di
Kota Bandung menunjukkan grafik yang positif dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya. sudah banyak yang dijalankan dengan konsisten dan memberikan
dampak yang cukup baik. lahan sawah abadi seluas 32,8 hektar masih
tetap eksis sebagai salah satu sumber pangan di Kota Bandung.
“Meski pembangunan kota ini tampak sangat kental dengan konsep urban
atau perkotaan dan berbasis teknologi, akan tetapi keberadaannya masih
tetap dipertahankan. Seluas 32,8 hektar masih ada dan kami kelola
sebagai sumber pangan di Kota Bandung,” jelasnya.
Selain itu, produktivitas lahan pangan di Kota Bandung masih harus
terus ditingkatkan mengingat kebutuhan pangan ke depan bukannya semakin
berkurang, malah akan semakin bertambah. dengan daya dukung lahan yang
tidak memadai, maka pilihan terbaiknya ada pada peningkatan
produktivitas.
“Dengan produktivitas lebih tinggi, kita akan dapat mengurangi
ketergantungan kepada daerah lain untuk memasok pangan utama yakni beras
yang saat ini lebih dari 90 persen masih disuplai dari luar daerah.
untuk meningkatkan produktivitas, saya pikir penggunaan alat dan mesin
pertanian (alsintan) yang lebih modern dapat menjadi alternatif,”
ucapnya.
Tambahnya, sebagai langkah nyata Pemerintah pusat bersama-sama
Pemerintah Daerah Kota Bandung terus menyerukan gerakan-gerakan untuk
menjaga Ketahanan pangan dengan beberapa program seperti Pola pertanian
modern melalui anggaran Program Inovasi Pemberdayaan Pembangunan
Kewilayahan (PIPPK).
“Pemerintah pusat sangat berkomitmen dalam peningkatan produktivitas
ini. ada banyak program pusat yang dapat dimanfaatkan dan sangat sejalan
dengan program ketahanan pangan di Kota Bandung, termasuk pengadaan
alsintan. upaya lain yang dilakukan adalah dengan mengembangkan pola
pertanian modern (urban farming). minimal setiap rw di kota bandung
wajib menyisihkan sebagian anggaran PIPPK untuk program urban farming.
selain untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus mengatasi minimnya lahan
pertanian, upaya tersebut dilakukan untuk menghijaukan kota bandung,”
tambahnya.
Disisi lain, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Elly
Wasliah menuturkan, konsumsi beras di Kota Bandung mencapai 60 ton
perhari, sehingga dibutuhkan sebuah terobosan untuk menanggulangi
kekurangan tersebut.
“Kita bersama-sama harus berkomitmen menjaga stabilitas pangan di
Kota Bandung dengan mengurangi konsumsi beras dan menggantinya dengan
makanan lain yang serupa seperti umbi-umbian dll. Selain itu, Kita
mempunyai program one day no rice sebagai langkah nyata untuk mengurangi
konsumsi beras. Dan jangan lupa seperti yang di anjurkan oleh pa wakil
tadi, Kota harus membiasakan shaum Senin-kamis, selain ibadah yang utama
yaitu dapat menjaga kesehatan dari detok yang jahat,” Pungkasnya.Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial mengatakan, harus ada kolaborasi antara Kota Bandung dengan kota/kabupaten lainnya di Indonesia. Hal ini sebagai langkah stabilisasi pangan sebagai kebutuhan masyarakat di kota Bandung. Selain itu sebagai pemerintah kota Bandung kita harus bisa memberikan arahan kepada seluruh masyarakat untuk mandiri sehingga tidak tergantung kepada pemerintah.
“Kita di Kota Bandung, sebagai kota metropolitan yang wilayahnya penggarapannya kurang, Kita harus berkolaborasi dengan Kota/Kabupaten yang Ada di Indonesia. Supaya stabilitas pangan di Kota Bandung terus terjaga. Selain itu, harus ada arahan kepada masyarakat untuk mandiri dalam mengelola pangan, seperti contoh jika masyarakat mempunyai halaman yang luas, disarankan untuk bercocok tanam seperti cabai, bawang-bawangan jadi ketika perlu tidak usah beli,” Ujarnya saat membuka acara Sidang Tahunan Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Kota Bandung di Hotel Golden Flower, Kota Bandung, Kamis (07/12/2017).
Lanjutnya, Oded menjelaskan Program pembangunan ketahanan pangan di Kota Bandung menunjukkan grafik yang positif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. sudah banyak yang dijalankan dengan konsisten dan memberikan dampak yang cukup baik. lahan sawah abadi seluas 32,8 hektar masih tetap eksis sebagai salah satu sumber pangan di Kota Bandung.
“Meski pembangunan kota ini tampak sangat kental dengan konsep urban atau perkotaan dan berbasis teknologi, akan tetapi keberadaannya masih tetap dipertahankan. Seluas 32,8 hektar masih ada dan kami kelola sebagai sumber pangan di Kota Bandung,” jelasnya.
Selain itu, produktivitas lahan pangan di Kota Bandung masih harus terus ditingkatkan mengingat kebutuhan pangan ke depan bukannya semakin berkurang, malah akan semakin bertambah. dengan daya dukung lahan yang tidak memadai, maka pilihan terbaiknya ada pada peningkatan produktivitas.
“Dengan produktivitas lebih tinggi, kita akan dapat mengurangi ketergantungan kepada daerah lain untuk memasok pangan utama yakni beras yang saat ini lebih dari 90 persen masih disuplai dari luar daerah. untuk meningkatkan produktivitas, saya pikir penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang lebih modern dapat menjadi alternatif,” ucapnya.
Tambahnya, sebagai langkah nyata Pemerintah pusat bersama-sama Pemerintah Daerah Kota Bandung terus menyerukan gerakan-gerakan untuk menjaga Ketahanan pangan dengan beberapa program seperti Pola pertanian modern melalui anggaran Program Inovasi Pemberdayaan Pembangunan Kewilayahan (PIPPK).
“Pemerintah pusat sangat berkomitmen dalam peningkatan produktivitas ini. ada banyak program pusat yang dapat dimanfaatkan dan sangat sejalan dengan program ketahanan pangan di Kota Bandung, termasuk pengadaan alsintan. upaya lain yang dilakukan adalah dengan mengembangkan pola pertanian modern (urban farming). minimal setiap rw di kota bandung wajib menyisihkan sebagian anggaran PIPPK untuk program urban farming. selain untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus mengatasi minimnya lahan pertanian, upaya tersebut dilakukan untuk menghijaukan kota bandung,” tambahnya.
Disisi lain, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Elly Wasliah menuturkan, konsumsi beras di Kota Bandung mencapai 60 ton perhari, sehingga dibutuhkan sebuah terobosan untuk menanggulangi kekurangan tersebut.
“Kita bersama-sama harus berkomitmen menjaga stabilitas pangan di Kota Bandung dengan mengurangi konsumsi beras dan menggantinya dengan makanan lain yang serupa seperti umbi-umbian dll. Selain itu, Kita mempunyai program one day no rice sebagai langkah nyata untuk mengurangi konsumsi beras. Dan jangan lupa seperti yang di anjurkan oleh pa wakil tadi, Kota harus membiasakan shaum Senin-kamis, selain ibadah yang utama yaitu dapat menjaga kesehatan dari detok yang jahat,” Pungkasnya.
“Kita di Kota Bandung, sebagai kota metropolitan yang wilayahnya penggarapannya kurang, Kita harus berkolaborasi dengan Kota/Kabupaten yang Ada di Indonesia. Supaya stabilitas pangan di Kota Bandung terus terjaga. Selain itu, harus ada arahan kepada masyarakat untuk mandiri dalam mengelola pangan, seperti contoh jika masyarakat mempunyai halaman yang luas, disarankan untuk bercocok tanam seperti cabai, bawang-bawangan jadi ketika perlu tidak usah beli,” Ujarnya saat membuka acara Sidang Tahunan Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Kota Bandung di Hotel Golden Flower, Kota Bandung, Kamis (07/12/2017).
Lanjutnya, Oded menjelaskan Program pembangunan ketahanan pangan di Kota Bandung menunjukkan grafik yang positif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. sudah banyak yang dijalankan dengan konsisten dan memberikan dampak yang cukup baik. lahan sawah abadi seluas 32,8 hektar masih tetap eksis sebagai salah satu sumber pangan di Kota Bandung.
“Meski pembangunan kota ini tampak sangat kental dengan konsep urban atau perkotaan dan berbasis teknologi, akan tetapi keberadaannya masih tetap dipertahankan. Seluas 32,8 hektar masih ada dan kami kelola sebagai sumber pangan di Kota Bandung,” jelasnya.
Selain itu, produktivitas lahan pangan di Kota Bandung masih harus terus ditingkatkan mengingat kebutuhan pangan ke depan bukannya semakin berkurang, malah akan semakin bertambah. dengan daya dukung lahan yang tidak memadai, maka pilihan terbaiknya ada pada peningkatan produktivitas.
“Dengan produktivitas lebih tinggi, kita akan dapat mengurangi ketergantungan kepada daerah lain untuk memasok pangan utama yakni beras yang saat ini lebih dari 90 persen masih disuplai dari luar daerah. untuk meningkatkan produktivitas, saya pikir penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang lebih modern dapat menjadi alternatif,” ucapnya.
Tambahnya, sebagai langkah nyata Pemerintah pusat bersama-sama Pemerintah Daerah Kota Bandung terus menyerukan gerakan-gerakan untuk menjaga Ketahanan pangan dengan beberapa program seperti Pola pertanian modern melalui anggaran Program Inovasi Pemberdayaan Pembangunan Kewilayahan (PIPPK).
“Pemerintah pusat sangat berkomitmen dalam peningkatan produktivitas ini. ada banyak program pusat yang dapat dimanfaatkan dan sangat sejalan dengan program ketahanan pangan di Kota Bandung, termasuk pengadaan alsintan. upaya lain yang dilakukan adalah dengan mengembangkan pola pertanian modern (urban farming). minimal setiap rw di kota bandung wajib menyisihkan sebagian anggaran PIPPK untuk program urban farming. selain untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus mengatasi minimnya lahan pertanian, upaya tersebut dilakukan untuk menghijaukan kota bandung,” tambahnya.
Disisi lain, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung Elly Wasliah menuturkan, konsumsi beras di Kota Bandung mencapai 60 ton perhari, sehingga dibutuhkan sebuah terobosan untuk menanggulangi kekurangan tersebut.
“Kita bersama-sama harus berkomitmen menjaga stabilitas pangan di Kota Bandung dengan mengurangi konsumsi beras dan menggantinya dengan makanan lain yang serupa seperti umbi-umbian dll. Selain itu, Kita mempunyai program one day no rice sebagai langkah nyata untuk mengurangi konsumsi beras. Dan jangan lupa seperti yang di anjurkan oleh pa wakil tadi, Kota harus membiasakan shaum Senin-kamis, selain ibadah yang utama yaitu dapat menjaga kesehatan dari detok yang jahat,” Pungkasnya.







Tidak ada komentar: