Irama Gitar tunggal yang dipetik Arman Idris, seniman asal Pagaralam ini baru saja selesai mengiringi tembang dan bait-bait "rejungan" dari H. Susno Duadji , pria yang digadang-gadangkan masyarakat Sumatera Selatan saat ini untuk memimpin provinsi yang kaya dengan khazanah budaya daerah ini.
Dengan pakaian sederhana, mengenakan sarung dan kaos berwarna kecoklatan dipadu sehelai handuk kecil di bahu dengan kopiah yang dipasang di kepala "melintang" membuat kesederhanaan itu terkesan unik dan menggelitik siapapun yang memandangnya.
Ya itulah Sosok Susno Duadji. Ini bukan sekedar basa basi apalagi bagi seorang mantan Pejabat teras Kepolisian di negeri ini yang saat ini mengisi hari-harinya dengan bertani dan memadukan cita rasa seni daerahnya dengan kepribadiannya yang memang apa adanya. Di sela-sela merencanakan dan membuat program Seni dan Budaya ke depan, tak jarang Susno menyambungkan obrolan kami dengan cerita-cerita kocak, menggelitik membuat kami terpingkal-pingkal. Misalnya cerita tentang kehidupan Suku Besemah, Semende yang dituturkan layaknya "Stand Up Comedy". Sesekali secara spontan keluar di mulutnya untaian guritan yang disampaikan dengan ekspresi penuh penjiwaan.
Inilah sosok alami Susno Duadji. Seorang yang sederhana dan apa adanya dalam berpenampilan. Seorang yang bicara blak-blakan tanpa takut dan mengkhawatirkan resiko dan akibat ucapan karena baginya setiap kebenaran harus ditegakkan. Seorang yang mampu beradaptasi termasuk dengan kami para pekerja seni.
Dan tuangan kopi pagi ini adalah bukti bahwa Susno Duadji mengapresiasi para pekerja seni. " Payu..ngupi..ngupi..!", katanya sambil menuangkan secangkir kopi buat kami berdua, saya dan Kang Arman Idris menikmati secangkir kopi tuangan Sang Jenderal sebagai tanda keakraban silaturrahim dan menghargai kami para pekerja seni. (Catatan Kecil Fekri Juliansyah, Pekerja Seni dan Pemerhati Budaya Sumatera Selatan)






