![]() |
| Sekda Kota Bandung, Yossi Irianto |
“Saya memberi jaminan, tidak ada
yang perlu dikhawatirkan. Semuanya sudah diantisipasi secara cepat, karena ini
menyangkut persoalan publik,” tegas Yossi saat ditemui di sela-sela rapat Rapat
Evaluasi Smart City bersama Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota
Bandung yang baru dilantik, Ahyani Raksanagara di ruang kerjanya, Kamis (12/1/2017).
Hal tersebut dikatakan Sekda atas
respon terhadap pemberitaan kekhawatiran 1.636 karyawan PD Kebersihan Kota
Bandung yang terancam tidak menerima gaji dikarenakan Pemerintah Kota Bandung
belum memiliki skema penyerahan dana operasional dari Dinas Lingkungan Hidup
dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung ke PD Kebersihan.
Bahkan Yossi berani menjamin hal
tersebut. Maka dari itu jajarannya langsung merespon cepat karena jika tidak,
khawatir akan berdampak kepada pelayanan publik, khususnya pelayanan
persampahan Kota Bandung. Menurutnya, semua itu dilakukan karena persoalan ini
membutuhkan percepatan dalam penyelesaian, namun tetap harus sesuai dengan koridor
dan aturan yang berlaku.
Didampingi Kepala Bagian Humas Kota
Bandung, Yayan Ahmad Brillyana, Yossi menekankan bahwa sesuai Peraturan
Pemerintah No. 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah dan amanat Perda,
penugasan terhadap pengelolaan persampahan melekat kepada DLHK Kota Bandung,
sedangkan PD Kebersihan ke depan lebih berorientasi kepada lembaga yang
berorientasi pada profit. Karena itu, persoalan ini menjadi tanggung jawab DLHK
Kota Bandung untuk mencari mekanisme terbaik sesuai aturan yang berlaku.
Terkait mekanisme pemberian
honorarium bagi petugas kebersihan, Sekda memberi sinyal kemungkinan
dilakukannya kerjasama antara DLHK dengan PD Kebersihan melalui proses
penugasan pegawai baru. “Memang ada dua pilihan yang bisa dilakukan, yaitu
dengan sistem lelang atau mendatangkan pegawai baru. Tapi sistem lelang untuk
saat ini tidak logis karena butuh waktu. Kedua, dengan cara mendatangkan
pegawai baru. Pertanyaan saya, kenapa tidak melakukan kerjasama dengan PD
Kebersihan, karena disitu kan ada 1.636 karyawan. Kerjasama ini tidak
tabu, karena PD Kebersihan bukan semata-mata lembaga yang profit oriented,
tetapi juga melaksanakan tugas pemerintah yang salah satunya adalah
persampahan. Dan ini sejalan dengan prosedur pendirian BUMD PD Kebersihan dan
apa yang sudah dilakukan di Tahun 2015 dan 2016 lalu,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Umum PD
Kebersihan, Gun Gun Saptari Hidayat, melalui telepon memastikan 1.636 karyawan
PD Kebersihan tetap akan menerima gaji seperti biasa, karena PD Kebersihan
telah mempersiapkan dana cadangan hingga 2 (dua) bulan ke depan. Dana tersebut
berasal dari pemasukan (income) PD Kebersihan yang dihimpun pada tahun
2016.
“Karyawan PD Kebersihan tidak perlu
khawatir gajinya tidak dibayarkan, karena gaji bulan Februari tetap akan cair
seperti biasa, sebagaimana gaji bulan Januari yang dibayarkan tepat waktu,”
terangnya.
Dijelaskannya, APBD anggaran
kebersihan yang diajukan untuk tahun 2017 ini sekitar 125 miliar yang terdiri
dari sekitar 25 miliar untuk tipping fee ke TPA Sarimukti, dan sisanya
sekitar 100 miliar untuk operasional PD Kebersihan. Ia berharap skema
penyerahan anggaran bisa segera diperoleh, mengingat dana cadangan yang
dipersiapkan hanya sampai 2 bulan ke
depan, yaitu hingga Februari, itu pun sebatas untuk penggajian karyawan dan
operasional yang tidak bisa ditunda, seperti pembelian bensin.
Namun ia optimis dan menjamin opersional
PD Kebersihan akan terus berjalan dan tidak akan terjadi Bandung Lautan Sampah
sebagaimana yang dikhawatirkan, mengingat gerak cepat Pemkot Bandung
mengantisipasi persoalan ini. Saat ini Pemkot Bandung telah mempersiapkan
Peraturan Wali kota Bandung terkait mekanisme pengelolaan anggaran kebersihan
antara DLHK dan PDK.
“Pemkot sudah menemui LKPP dan BPKP
untuk berkonsultasi dan sudah mengajukan surat untuk mendapat jawaban resmi
dari keduanya sebagai bahan penyempurnaan Peraturan Walikota terkait
pengelolaan anggaran kebersihan tersebut. Termasuk juga melaksanakan kunjungan
ke Dinas Kebersihan DKI Jakarta dan Surabaya sebagai bahan studi perbandingan,”
pungkasnya. (Rian)






