Bandung, Sebelas12 - PD BPR Kota
Bandung kembali menghadirkan inovasi pembiayaan. Setelah sebelumnya
menghadirkan Kredit Melati dan Kredit Mesra, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
Kota Bandung itu kini menghadirkan program serupa yakni Kredit Bagja,
kependekan dari Kredit Bangun Keluarga Sejahtera.
Direktur BPR Kota Bandung, Rio
Zakaria mengemukakan, sama seperti dua produk pembiayaan sebelumnya,
Kredit Bagja bertujuan untuk mengurangi jumlah masyarakat yang meminjam
uang kepada Rentenir.
“Dari hasil survey terbatas kami di
lapangan ditemukan bahwa ternyata masih banyak korban rentenir. Mereka segan
meminjam ke bank karena pesimis dengan beragam persyaratan. Makanya mereka
lebih memilih rentenir karena persyaratannya dinilai lebih mudah,” ungkapnya
kepada wartawan dalam Bandung Menjawab yang berlangsung di Bandoengsche Melk
Centrale, Jalan Aceh, Selasa (14/11/2017).
Untuk itu, lanjutnya, pihak PD BPR
Kota Bandung lanjut membuat beragam program untuk membantu masyarakat yang
terjerat rentenir. Meskipun sudah ada Kredit Melati dan Kredit Mesra, pihaknya
pun membuat Kredit Bagja. Karena, menurutnya, semakin banyak program yang
dijalankan, akan semakin banyak pula masyarakat yang terhindar dari rentenir.
“Bedanya, Kredit Bagja diperuntukkan
bagi kader-kader PKK. Sehingga untuk melengkapi persyaratan, selain ada
fotokopi KTP, KK juga harus ada rekomendaasi dari ketua TP PKK
kecamatan,”sambungnya.
Adapun plafon yang diberikan kepada
pemohon adalah berkisar antara Rp1 juta hingga Rp3 juta. Pengajuan bisa
dilakukan per kelompok maupun perorangan. Sama dengan produk kredit mikro
lainnya, Kredit Bagja juga tidak dikenakan bunga, hanya ada biaya administrasi
sebesar 8 persen.
Dia pun menjamin, pengajuan kredit
Bagja ini tidak akan tumpang tindih dengan kredit mikro lainnya karena satu
orang tidak boleh mengajukan lebih dari satu kredit. Kecuali kalau satu
kelaurga, dua orang dalam satu KK yang sama diperbolehkan mengajukan kredit
yang berbeda. Tapi kalau orangnya sama tidak boleh mengajukan kredit mikro
lagi, walaupun jenis kreditnya berbeda.
Demi memperlancar pelaksanaan
program Kredit Bagja ini, PD BPR menyiapkan dana sebeesar Rp25 milyar. Dana
sebesar itu diambil dari pembiayaan yang digunakan untuk kredit melati yang
sampai saat ini perputaran uangnya mencapai sekitar Rp50 milyar.
“Karena dari program Kredit Melati
sudah ada yang membayar sampai lunas dan uangnya bisa dipakai untuk pembiayaan
yang lain atau digunakan untuk pinjaman bagi orang lain,”sebut dia.
Pada praktiknya, PD BPR sudah
menyiapkan 30 orang teller keliling untuk melayani masyarakat pemohon pembiayaan
di 30 kecamatan. Mereka yang nantinya akan menjelaskan produk kredit mikro
kepada masyarakat baik itu Kredit Melati, Kredit Mesra, maupun Kredit Bagja.
Mereka juga yang akan menjemput aplikasi atau draft permohonan hingga tahapan
menjemput angsuran.
“Masing-masing petugas kami sudah
punya jadwal dan nomor kontak masing-masing yang bisa dihubungi jika ada yang
ditanyakan atau dikeluhkan seputar pelayan PD BPR. Dengan begitu, diharapkan
tidak ada celah lagi bagi para rentenir untuk mendekati masyarakat,”
pungkasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kabag
Humas Setda Kota Bandung, Yayan A. Brillyana menambahkan, banyaknya program
pembiayaan yang dijalankan oleh PD BPR Kota Bandung diharapkan mampu membantu
perekonomian masyarakat yang dimulai dari tingkat keluarga terutama keluarga
miskin.
Bagian Humas, sebagai corong
informasi kegiatan pembangunan, penghubung antara masyarakat dan pemerintah
serta media sosialisasi bagi proses pembangunan di Kota Bandung menjembatani
semua komunikasi baik langsung maupun tidak langsung antara Media Massa, Press,
dan Masyarakat.
“Begitupun terkait dengan produk PD
BPR ini. Kami memiliki tanggung jawab untuk turut serta menyampaikan informasi
ke khalayak agar program ini dapat diakses oleh masyarakat lebih luas lagi dan
dapat sedikit demi sedikit menggerakkan ekonomi kerakyatan di Kota Bandung,”
ujarnya.(*Red)






