Bandung, Sebelas12 -
bank bjb bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah meresmikan pembangunan
delapan ruang kelas baru (RKB) dan melakukan rehabilitasi pada tiga ruang kelas
lainnya di SMA Negeri 9 Bandung.
Peresmian dilakukan
di Kampus SMA Negeri 9 Kota Bandung, Jl. Suparmin No. 1A, Kota Bandung, Rabu
(3/1/18). Pembangunan dua diantara RKB tersebut biayanya berasal dari
dana CSR bank bjb, dan sisanya dari Dana Alokasi Khusus Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (DAK APBN).
Direktur Utama bank
bjb Ahmad Irfan mengatakan bantuan pembangunan RKB dari bank bjb ini merupakan
wujud kepeduliaan untuk membangun Indonesia memahami negeri.
“Diharapkan dengan
ruang kelas yang baik maka akan meningkatkan peran serta generasi muda di masa
mendatang. Sehingga akan memberikan kenikmatan pada generasi muda Indonesia
untuk menuntut ilmu," ujar Ahmad Irfan pada acara peresmian RKB tersebut.
Dia mengatakan bahwa
pemerintah tidak dapat bergerak sendirian. Untuk itu dibutuhkan gerakan civil
society melalui peran tanggung jawab sosial perusahan sebagai bagian integral
yang senantiasa menjalankan konsep triple bottom lines.
"Kami membangun
Indonesia melalui dunia pendidikan. Sehingga apa yang kami bangun sekarang akan
mendorong pembangunan Indonesia di masa mendatang," ujar Ahmad Irfan.
Sementara itu
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang akrab di sapa Aher mengungkapkan bahwa
pihaknya terus berupaya memperbaiki kualitas pendidikan, termasuk kualitas dan
kesejahteraan tenaga pendidik. Salah satu persoalan yang terus diselesaikan
adalah pembangunan ruang kelas.
“Jawa Barat termasuk
provinsi dengan lompatan pembangunan ruang kelas paling besar di Indonesia.
Karena tidak ada sepanjang sepuluh tahun dibangun, pembangunan SD dan SMP
terbangun kurang lebih 15 ribu ruang kelas,” kata Aher.
Kepala Sekolah SMA
Negeri 9 Kota Bandung Agustia Mulyadi mengatakan pada 2016, gedung sekolah SMA
Negeri 9 Kota Bandung rusak diterjang banjir, sehingga mengakibat jebolnya
tembok pembatas sekolah.
Tujuh ruang kelas dan
perpustakaan tergenang air. Sementara 35 unit komputer terendam dan ribuan buku
hancur, serta dokumen-dokumen penting milik sekolah hilang. Beberapa hari
setelah peristiwa terebut, atas kerjasama semua pihak, tembok bisa dibangun
kembali.
Sejak saat itu, pihak
sekolah pun berupaya terus agar musibah yang sama tidak terulang kembali. Salah
satu upaya yang dilakukan, gedung sekolah yang pernah terendam banjir
bangunannya ditinggikan.
“Kita membangun komitmen dengan Komite Sekolah pada waktu itu. Bangunan-bangunan yang terkena banjir kita naikan permukaannya. Dengan berbekal sisa anggaran Rp 150 juta pada bulan April 2017 nekat saja. Dengan Bismillah, kita lakukan peletakan batu pertama ruang kelas ini,” cerita Agustia Mulyadi dalam sambutannya di acara peresmian.
“Kita membangun komitmen dengan Komite Sekolah pada waktu itu. Bangunan-bangunan yang terkena banjir kita naikan permukaannya. Dengan berbekal sisa anggaran Rp 150 juta pada bulan April 2017 nekat saja. Dengan Bismillah, kita lakukan peletakan batu pertama ruang kelas ini,” cerita Agustia Mulyadi dalam sambutannya di acara peresmian.
Hampir dua tahun
berselang dari peristiwa tersebut, gedung sekolah yang rusak selesai
diperbaiki. (*Red)








Tidak ada komentar: